
meskipun ini adalah salah satu karya yang kurang dikenal. Patung ini diciptakan antara tahun 1506 dan 1513 sebagai bagian dari komisi untuk makam Paus Julius II. Ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu dari dua belas rasul dalam desain megah untuk makam tersebut, tetapi, seperti banyak proyek makam paus, ini tetap tidak selesai.
Konteks Komisi
Patung “St. Matthew” awalnya dipesan oleh Paus Julius II, yang ingin Michelangelo mengukir serangkaian dua belas sosok untuk makam tersebut, yang mewakili para rasul. St. Matthew seharusnya menjadi salah satu sosok tersebut. Patung ini adalah bagian dari rencana yang lebih besar dan ambisius untuk makam paus, tetapi karena beberapa gangguan dalam pekerjaan Michelangelo, termasuk komisi lainnya, proyek makam tidak pernah selesai sesuai rencana.
Dalam kasus St. Matthew, Michelangelo kesulitan menyelesaikan sosok tersebut, dan itu tetap belum selesai selama sebagian besar keberadaannya. Karya ini tidak pernah secara resmi dipasang di makam dan sebaliknya dipindahkan ke berbagai lokasi sebelum ditempatkan di Accademia di San Luca di Roma.
Deskripsi dan Interpretasi
Patung St. Matthew diukir dari marmer, dan menggambarkan rasul tersebut dalam posisi duduk, seolah-olah bersiap untuk menulis atau merenung. Sosok tersebut terlihat secara dramatis belum selesai, menunjukkan sosok yang muncul dari marmer, yang merupakan ciri khas pendekatan Michelangelo terhadap patung, di mana ia sering meninggalkan bagian dari karyanya kasar atau tidak lengkap. Teknik ini adalah bagian dari keinginannya untuk menangkap momen ketika sosok tersebut “melepaskan diri” dari batu, yang ia lihat sebagai proses alami pemahat.
Postur St. Matthew dinamis dan tegang, dengan satu kaki ditekuk di bawahnya dan yang lainnya sedikit terangkat seolah-olah untuk melangkah maju. Tubuhnya terpelintir, dan ekspresi wajahnya menunjukkan konsentrasi dan pemikiran mendalam. Representasi St. Matthew yang belum selesai, berotot, dan ekspresif ini mencerminkan ketertarikan Michelangelo terhadap bentuk manusia dan kemampuannya untuk memberikan bahkan karya-karya yang tidak lengkap dengan rasa kehidupan.
Simbolisme dan Makna
Patung St. Matthew memiliki simbolisme pada beberapa tingkatan:
- Refleksi Spiritual: Sebagai santo pelindung pemungut pajak dan salah satu rasul Yesus, St. Matthew sering digambarkan sebagai simbol penebusan dan konversi. Gambaran Michelangelo yang belum selesai tentang dirinya menunjukkan perjuangan spiritual—santo tersebut terlibat dalam momen kontemplasi pribadi, mungkin merenungkan panggilannya dan transformasinya dari seorang pendosa publik menjadi seorang santo.
- Perjuangan Sang Seniman: Sifat tidak selesai dari patung ini juga menyoroti perjuangan artistik Michelangelo sendiri. Dia dikenal karena meninggalkan patung-patung yang tidak selesai atau dalam keadaan “setengah terbentuk”, sebuah teknik yang dia sebut sebagai ide tentang figura “yang hidup” dari marmer. Ini menunjukkan bahwa Michelangelo melihat karyanya sebagai sebuah proses daripada produk yang telah selesai. Ketegangan dalam pose St. Matthew mencerminkan perjuangan internal sang seniman, mungkin dengan tuntutan komisi, karya-karya lainnya, dan skala luar biasa dari proyek makam tersebut.
- Bentuk Manusia dan Ekspresi: Seperti banyak karya Michelangelo yang lain, St. Matthew adalah sebuah studi tentang tubuh manusia dan ekspresi emosi. Anggota tubuhnya yang berotot, ketegangan dalam postur, dan intensitas tatapannya menunjukkan keahlian Michelangelo dalam anatomi manusia. Bahkan dalam keadaan yang belum lengkap, patung itu memancarkan kekuatan dan emosi.
Sifat yang Tidak Selesai
Keputusan Michelangelo untuk membiarkan patung itu tidak lengkap menambah lapisan makna tambahan. Tidak seperti banyak seniman Renaisans lainnya, Michelangelo sering kali secara sengaja meninggalkan patung-patungnya setengah selesai. Teknik ini, yang sering disebut “non-finito,”, adalah cara dia untuk menunjukkan bahwa karya tersebut masih dalam pengerjaan, seolah-olah figura tersebut masih benar-benar menjadi dari marmer. Kualitas yang tidak selesai dari St. Matthew, dengan anggota tubuh dan kepalanya yang masih setengah terbentuk, memberikan patung tersebut energi yang mentah dan dinamis yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Lokasi dan Warisan
Patung St. Matthew awalnya dimaksudkan untuk ditempatkan sebagai bagian dari makam Paus Julius II tetapi tidak pernah sepenuhnya terintegrasi ke dalam desain makam tersebut. Patung itu akhirnya dipindahkan dan ditempatkan di berbagai lokasi sebelum menemukan rumahnya di Accademia di San Luca di Roma. Patung tersebut, bersama dengan karya-karya lain yang belum selesai oleh Michelangelo, seperti “Budak Pemberontak” dan “Budak yang Sakti”, telah dirayakan sebagai bukti kemampuan luar biasa sang seniman untuk memberikan karya-karyanya dengan nuansa kehidupan, bahkan ketika mereka tidak sepenuhnya selesai.
Hari ini, St. Matthew tetap menjadi contoh penting dari pendekatan unik Michelangelo terhadap patung, yang menggabungkan kesempurnaan dengan ketidaksempurnaan. Bentuk yang tidak selesai berbicara tentang keyakinan sang seniman bahwa seni adalah proses yang berkelanjutan, tidak pernah benar-benar selesai, tetapi selalu berkembang dan berubah.
Kesimpulan
“St. Matthew” karya Michelangelo tidak hanya sekadar sosok religius; ini adalah representasi dari perjuangan artistik, transformasi spiritual, dan ekspresi manusia. Meskipun belum lengkap, patung tersebut memberikan pengunjung sekilas pemahaman mendalam sang seniman tentang kondisi manusia dan kemampuannya untuk menyampaikan emosi dan ketegangan melalui marmer. Sifat yang tidak selesai dari karya ini hanya menambah kekuatannya, menciptakan rasa dinamika dan potensi. St. Matthew, seperti banyak karya Michelangelo, berfungsi sebagai pengingat bahwa proses penciptaan sama pentingnya dengan hasil akhir.