
Melempar bayi adalah tradisi yang kontroversial dan jarang dilakukan,
namun masih ada sebagian kecil masyarakat di India yang meneruskan praktik ini. Meskipun banyak orang melihatnya sebagai ritual keagamaan yang bermakna, tradisi ini juga menghadapi kritik karena berisiko tinggi bagi keselamatan bayi. Artikel ini akan membahas asal-usul, makna, serta pandangan masyarakat terhadap tradisi melempar bayi yang ada di India.
Asal-Usul Tradisi Melempar Bayi
Tradisi melempar bayi di India memiliki sejarah panjang dan dilaksanakan dalam sejumlah komunitas dengan keyakinan tertentu. Salah satu lokasi yang terkenal dengan tradisi ini adalah kota Sholapur di negara bagian Maharashtra, di mana beberapa keluarga melaksanakan ritual ini sebagai bagian dari ibadah kepada dewa atau untuk mendapatkan keberkahan.
Ritual di Festival Khusus
Tradisi melempar bayi ini kerap dijalankan pada festival atau hari tertentu yang dianggap penuh berkah, seperti festival keagamaan Hindu. Umumnya, bayi yang diikutsertakan dalam ritual ini berusia antara enam bulan hingga satu tahun. Bayi tersebut akan dibawa oleh orang tua atau anggota keluarga lainnya ke tempat yang tinggi, seperti menara atau gedung, dan dilemparkan ke bawah, sementara orang-orang di bawah menunggu untuk menangkap bayi dengan kain atau selimut.
Kepercayaan yang Melatarbelakangi
Tradisi ini didasari oleh keyakinan bahwa melemparkan bayi ke udara akan mendatangkan keberuntungan dan perlindungan bagi bayi serta keluarganya. Beberapa orang meyakini bahwa ritual ini akan menyucikan bayi dan mengusir roh jahat atau penyakit yang mungkin mengganggu mereka. Selain itu, ada juga yang percaya bahwa tindakan ini dapat mendatangkan kesehatan, kemakmuran, dan panjang umur bagi bayi yang terlibat dalam ritual tersebut.
Proses dan Keamanan dalam Ritual
Meskipun tradisi ini memiliki makna spiritual dan budaya bagi sebagian orang, hal ini tidak luput dari kontroversi, khususnya mengenai masalah keselamatan bayi yang terlibat. Melempar bayi dari ketinggian, meski terdapat orang di bawah untuk menangkapnya, berisiko menimbulkan cedera serius atau bahkan kematian.
Penyelenggaraan yang Terorganisir
Untuk menjamin keselamatan bayi yang dilempar, ritual ini umumnya diorganisir dengan sangat teliti. Selama festival, para pelaku ritual menggunakan kain atau selimut besar untuk menangkap bayi yang dilemparkan dari tempat tinggi. Namun, meskipun perhatian khusus diberikan pada teknik penangkapan, risiko tetap ada. Beberapa kasus cedera bahkan telah dilaporkan, walaupun jarang terjadi.
Kontroversi dan Kritikan
Banyak pihak, termasuk dokter dan aktivis hak asasi manusia, mengecam tradisi ini sebagai tindakan yang sangat berbahaya bagi keselamatan bayi. Mereka berpendapat bahwa tidak ada alasan yang cukup kuat untuk mempertaruhkan nyawa bayi hanya demi melestarikan tradisi. Lembaga kesehatan global seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan tentang bahaya yang terkait dengan tradisi ini, terutama risiko cedera pada kepala, tulang belakang, dan organ tubuh lainnya.
Pandangan Masyarakat Terhadap Tradisi Melempar Bayi
Meski terdapat kontroversi, tradisi ini masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai bagian dari warisan budaya dan agama. Masyarakat yang menjalankan tradisi ini berargumen bahwa ritual ini adalah simbol penting dari keberuntungan dan keberkahan yang tidak dapat digantikan dengan cara lain.
Pelestarian Budaya dan Kepercayaan
Bagi beberapa individu, melempar bayi merupakan komponen dari warisan agama dan budaya yang wajib dijaga serta diteruskan kepada generasi selanjutnya. Mereka meyakini bahwa ritual ini memperkuat hubungan antara manusia dan alam, serta memfasilitasi kedekatan dengan dewa atau kekuatan spiritual. Di sisi lain, ada juga yang beranggapan bahwa tindakan ini membantu keluarga memperoleh berkah dan perlindungan dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan untuk Berubah
Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keselamatan dan perlindungan anak, banyak keluarga mulai meninggalkan tradisi ini. Mereka berargumen bahwa terdapat banyak cara lain untuk mengekspresikan rasa syukur dan mendapatkan berkah tanpa melibatkan risiko fisik bagi bayi. Beberapa masyarakat lokal kini mulai memodifikasi ritual dengan cara yang lebih aman dan praktis, tanpa harus melempar bayi dari ketinggian.