
Festival Onbashira adalah perayaan khas yang berlangsung di wilayah Suwa, Prefektur Nagano, Jepang.
Festival ini memiliki sejarah yang panjang dengan lebih dari 1. 200 tahun lamanya dan diadakan setiap enam tahun sekali, terutama pada tahun zodiak Monyet dan Harimau dalam kalender Tionghoa.
Tujuan utama festival ini adalah untuk mengganti pilar-pilar suci (onbashira) di Kuil Agung Suwa (Suwa Taisha), yang dianggap sebagai simbolis pembaruan dan penghormatan kepada para dewa dalam kepercayaan Shinto.
Tahapan Festival Onbashira
Yamadashi: Membawa Keluar dari Gunung
Tahap pertama dari festival ini dikenal sebagai Yamadashi, yang berarti “keluar dari gunung”.
Pada tahap ini, 16 batang pohon besar, umumnya pohon cemara
berusia sekitar 200 tahun dengan panjang hingga 17 meter dan berat mencapai 12 ton, dipilih dan ditebang dari hutan-hutan sekitar wilayah Suwa.
Setelah ditebang, batang pohon tersebut ditarik secara manual oleh ribuan penduduk setempat melalui jalur pegunungan yang terjal menuju kuil.
Salah satu momen paling mendebarkan dalam Yamadashi adalah
“kiotoshi” atau “penurunan pohon”, di mana batang pohon besar diluncurkan menuruni lereng curam, sementara para peserta yang berani duduk di atasnya, mempertaruhkan nyawa mereka dalam proses tersebut.
Satobiki: Menarik Melalui Desa dan Mendirikan Pilar
Setelah Yamadashi, tahap selanjutnya adalah Satobiki, yang diadakan sekitar satu bulan setelahnya.
Pada tahap ini, batang pohon yang sudah dibawa turun dari gunung
ditarik melalui desa-desa menuju Kuil Agung Suwa.
Sesampainya di kuil, batang pohon tersebut didirikan sebagai pilar anyar di empat sudut kuil dalam sebuah upacara yang disebut “tate-onbashira”.
Proses pendirian pilar ini sangat kompleks dan membutuhkan kerjasama serta ketelitian yang tinggi.
Selama proses pendirian, para peserta sering kali memanjat pilar untuk
menunjukkan keberanian dan kekuatan mereka, meskipun tindakan ini sangat berbahaya dan telah mengakibatkan kecelakaan fatal di masa lalu.
Makna dan Signifikansi Festival
Festival Onbashira memiliki makna yang mendalam dalam budaya dan spiritualitas masyarakat setempat.
Pergantian pilar setiap enam tahun sekali melambangkan pembaruan dan revitalisasi kuil, serta memperkuat hubungan antara manusia dan alam.
Di samping itu, festival ini mencerminkan semangat kebersamaan dan
kerjasama komunitas, di mana ribuan orang berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Risiko dan Kontroversi
Meskipun festival ini kaya akan tradisi dan makna budaya, Onbashira juga dikenal sebagai salah satu festival yang paling berbahaya di Jepang.
Selama pelaksanaan festival, terutama pada tahap kiotoshi dan pendirian pilar, sering terjadi kecelakaan serius, bahkan kematian.
Misalnya, pada tahun 2010, dua peserta meninggal dunia setelah
terjatuh dari ketinggian saat proses pendirian pilar.
Meskipun demikian, masyarakat setempat terus berupaya melestarikan tradisi ini dengan penuh semangat, sambil berusaha meningkatkan langkah-langkah keamanan untuk meminimalkan risiko bagi para peserta.